Pages - Menu

Translate

Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Meningkatkan kesejahteraan dengan menjamin Kecukupan serta ketersediaan pangan dan gizi masyarakat

Kesepakatan global yang dituangkan dalam Milenium development Goals (MDG’s) memiliki tujuan besar untuk mengurangi bencana kelaparan dan kemiskinan. Berbicara tentang hal ini tentunya tidak terlepas dari bagaiman masalah pangan bahkan juga gizi yang menjamin peningkatan taraf hidup rakyat dari semua lapisan masyarakat mencerminkan bagaimana keberhasilan pembangunan manusia dan masyarakat seluruhnya.
Di Indonesia Ketersediaan pagannya dapat dikatakan cukup besar dan berasal dari produksi sendiri, Indonesia memproduksi sekitar 31 juta ton beras setiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit diatas tingkat produksi tersebut, dimana impor umumnya kurang dari 7% konsumsi, Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. namun ketersediaan pangan yang melimpah melebihi kebutuhan pangan penduduk tidak menjamin bahwa seluruh penduduk terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. Sehingga pada kenyataannya masih banyak penduduk di Indonesia yang kebutuhan pangan dan gizinya belum terpenuhi, kasus busung lapar menunjukkan adanya permasalahan ketahanan pangan.
Hal ini berhubungan erat dengan ketersediaan dan tingkat kualitas konsumsi pangan. Selain dari pada itu stabilitas ketersediaan pangan di Indonesia masih bergantung pada musim misalnya pada paceklik musiman. Ada saat bahan pangan tidak ada, tidak beli karena tidak punya uang, dan tidak bisa tanam karena climate change (perubahan iklim), selain dari pada itu akses dan keterjangkauan kualitas konsumsi pangannya masih sangat rendah, juga sangat mempengaruhi kebutuhan pangan dan gizi penduduk.
Adanya perbedaan-perbedaan permasalahan potensi atau sumberdaya di setiap daerah mengharuskan adanya kebijakan pangan terutama terkait dengan ketersediaan pangan dan gizi secara spesifik di daerah, agar program dapat dilaksanakan dengan baik, tepat sasaran dan berdampak nyata.
Dalam hal ini biasanya pemerintahan hanya fokus pada pangan sumber karbohidrat dan energi. Yang penting harga beras murah, padahal bagaimana dengan sumber protein, sedangkan harga daging gila-gilaan, lalu bagaimana dengan sumber zat gizi yang lain?? Seperti zat pengatur, yaitu vitamin dan mineral. Tentu saja air yang cukup. Factor ekonomi menjadikan pola daya fikir masyarakat sekarang asal kenyang saja dan murah, lebih ke selera kantong dan perut, sehingga tidak terpikir gizi terpenuhi atau belum.
Mungkin ketahanan pangan nasional dapat membaik dengan dilakukannya peningkatan produksi pangan, Meskipun kemandirian pangan cukup baik ketergantungan pangan terhadap impor beberap komuditas seperti beras, jagung kedelai dan susu yang relative tinggi mungkin diperlukan adanya adopsi tekhnologi baik dalam perbenihan, pembibitan, pengolahan hasil, sehingga produktivitas dan mutu impor dapat ditingkatkan , Pemerintah juga perlu mengintervensi mekanisme pasar yang tidak berjalan normal. Misalnya, ketika harga pangan membubung tinggi, peran untuk menahan laju harga menjadi penting, Perlu diperhatikan pula aksesibilitas ekonomis, dalam arti apakah harganya terjangkau dan tidak secara financial, atau makanannya ada, tetapi harganya mahal, tetap tidak aksesibel. Perlu peran pemerintah bagaimana caranya agar dengan daya beli yang terbatas, mereka dapat menunjang kehidupan mereka dengan sebaik-baiknya. Program pemerintah untuk menyediakan pangan yang murah bagi masyarakat dengan taraf ekonomi rendah diharapkan tidak saja berorientasi kepada pemenuhan kalori, tetapi seharusnya diimbangi dengan program penyediaan gizi protein. Sehingga tidak ada ada lagi Nelayan yang kerjanya menangkap ikan tidak makan ikan, karena semua dijual untuk membeli kebutuhan pangan yang lain. Kebijakan yang lain adalah perlunya peningkatan informasi mengenai gizi. Beberapa survey daerah menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi masih kurang, Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan menjadi penghambat upaya perbaikan gizi.

Strategi Penyelesaian Krisis Pangan (Pertanian) di Indonesia

Merencanakan strategi untuk menyelesaikan permasalahan pangan yang dihadapi Indonesia sangat penting mengingat :
1. Pangan merupakan hal fundamental yang dibutuhkan manusia untuk menunjang kelangsungan hidupnya.
2. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus 2010 mencapai 237,6 juta jiwa atau 3,5 juta lebih dari prediksi sebelumnya. Ledakan jumlah penduduk ini membawa konsekuensi luas, terutama pada kewajiban pemerintah menyediakan pangan, permukiman, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, dan fasilitas dasar lain yang dibutuhkan masyarakat .
3. Kebutuhan pangan dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan ledakan jumlah penduduk yang terus meningkat. Jika tidak diselesaikan secara strategis dan jangka panjang, maka akan terjadi krisis multi dimensi yang sifatnya konstruktif.
4. Model pemecahan permasalahan pangan yang dilakukan Pemerintah saat ini tidak efektif dan sifatnya jangka pendek.
Model Pemecahan masalah
Terdapat dua model pemecahan masalah untuk menyelesaikan krisis pangan dan masing-masing model tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya. Model pertama ialah pemecahan masalah yang sifatnya pragmatis atau pemecahan masalah yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan yang sifatnya mendesak, tanpa mengkalkulasikan implikasi jangka panjang. Hal yang disoroti dalam model ini ialah pada aspek urgensi pemenuhan kebutuhan, tetapi sangat minimal dalam memeta potensi-potensi sumber daya internal yang bisa dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan. Paradigma dalam model ini ialah pemenuhan kebutuhan sangat mendesak dan tidak ada waktu untuk memikirkan potensi-potensi internal lebih dalam, sehingga yang dipeta adalah sumber daya mana yang sudah tersaji yang bisa langsung dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan. Paradigma model pemecahan masalah ini dipakai oleh Pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan Beras. Beberapa pekan yang lalu Pemerintah Indonesia melakukan Impor beras dari Vietnam dan India untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Kebijakan impor ini dilakukan karena terdapat permasalahan produksi pertanian dalam negeri yang berimplikasi pada terbatasnya kapasitas produksi yang tidak sebanding dengan permintaan pasar. Kekurangan dari model ini jika diterapkan dalam jangka panjang ialah tumbuhnya ketergantungan terhadap negara penghasil sumber daya dan hal ini berimplikasi pada politik (Politik Ekonomi).
Model pemecahan masalah yang kedua adalah model pemecahan masalah filosofis atau jangka panjang. Penekanan model ini adalah pada kuatnya analisis terhadap potensi-potensi internal dan adanya upaya pengembangan potensi – potensi tersebut untuk memenuhi kebutuhan. Model yang kedua ini lebih mengusung pada upaya kemandirian dalam memenuhi kebutuhan. Bagaimana suatu negara bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya dengan cara mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam ruang lingkup negaranya, baik itu potensi SDA maupun SDM. Kelebihan dari model yang kedua ini ialah kuatnya negara (mandiri) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan bersifat jangka panjang. Titik tekan model kedua ialah pada upaya pengembangan potensi sumber daya. Membutuhkan waktu untuk melakukan pengembangan. Kebutuhan waktu yang cukup panjang dan sumber daya lain untuk menunjang pengembangan sumber daya menjadi kelemahan pada konteks kebutuhan yang mendesak. Kelebihan metode ini jika pada konteks negara berkembang ialah pada proyeksi masa depan yang mampu menjadikan negara menjadi mandiri, lepas dari ketergantungan terhadap asing dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Model pemecahan masalah yang sifatnya filosofis jika dikontekskan pada masalah pangan (pertanian) adalah pengintegrasian sistem pertanian dari proses produksi sampai distribusi dengan berbasis kualitas. Misalnya dalam proses produksi, bagaimana penggunaan pengetahuan dan alat-alat modern untuk mengolah lahan pertanian. Banyak variabel pembangunan yang harus diperhatikan hubungan sistemiknya, sehingga menjadi formula pembangunan yang ideal.
Alternatif Solusi
Dari model pemecahan masalah yang dijelaskan secara umum di atas ditegaskan ada dua model pemecahan, yaitu yang sifatnya mendesak (pragmatis) dan jangka panjang (filosofis) dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing dalam menyelesaikan masalah. Pemecahan masalah hendaknya mengasumsikan penyelesaian yang sifatnya jangka pendek dan jangka panjang. Dalam menyelesaikan masalah krisis pangan, penulis memakai kombinasi dua model pemecahan masalah di atas dengan landasan untuk mereduksi dan menutupi kekurangan dari masing-masing model pemecahan. Jangka pendek yang tidak memikirkan dampak jangka panjang, begitu juga sebaliknya. Untuk menegaskan strategi kombinasi model tersebut perlu kiranya kita memeta kondisi indonesia secara umum sebagai pijakan untuk melakukan prosentase dari masing-masing model pemecahan tersebut. Indonesia merupakan negara dengan brand image negara agraris. Kekayaan alam yang melimpah, tanah yang subur, curah hujan yang baik. Hal tersebut membuktikan bahwa indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri ke depannya. Permasalahan SDM yang menjadi kendala yang cukup besar. Ketidak mampuan SDM dalam mengelola potensi kekayaan alam indonesia berimplikasi pada minimnya produksi pangan indonesia. Kebutuhan pangan yang mendesak yang disebabkan oleh ledakan penduduk yang kurang produktifnya proses produksi pangan di indonesia menjadi asumsi bahwa Indonesia harus mengambil kebijakan impor dalam jumlah yang terbatas. Orientasi impor hanya untuk memenuhi kebutuhan unsich. Punya batas waktu dan kuota. Model pemecahan masalah yang sifatnya filosofis yang berbasis pada upaya pengembangan potensi-potensi sumber daya internal sangat ditekankan. Model pemecahan masalah filosofis harus memiliki acuan masalah yang jelas. Objek mana yang hendak dipecahkan dengan model seperti ini. Untuk itu pembukaan konstruksi pangan di indonesia harus dilakukan. Jika dilihat, struktur pemenuhan pangan di Indonesia, bahwa kebutuhan pangan banyak ditunjang dari Desa sebagai daerah yang menghasilkan pertanian (Sayur, Buah, Beras, Gula, dls). Desa merupakan basic perekonomian nasional. Desa menunjang kebutuhan orang-orang Desa dan Kota. Permasalahan yang terjadi ialah banyak orang yang tidak tertarik dengan desa karena kurang begitu prospek secara ekonomi dan mobilitas, sehingga banyak orang memilih urbanisasi. Dampaknya desa sebagai lumbung pangan ditinggalkan. Implikasi besarnya ialah krisis pangan.
Revitalisasi Desa
Berpijak pada model pemecahan masalah yang sifatnya filosofis. Sedangkan kajian kita sudah jelas, yaitu desa. Rumusan masalah dalam mengatasi krisis pangan yang sifatnya jangka panjang adalah bagaimana melakukan revitalisasi desa? Revitaliasi berarti proses, cara, dan perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya . Dengan mengelola desa dengan baik sehingga orang tertarik ke desa dan menghidupkan ekonomi pedesaan yang berbasis agraris menghasilkan pangan. Konseptualiasi Revitalisasi sendiri perlu didalami lagi dengan matang. Prinsip yang penulis tawarkan untuk dijadikan pijakan dalam revitalisasi ialah,
1. Orientasi revitalisasi pada produktifitas pangan
2. Produksi yang berbasis pengetahuan dan teknologi modern
3. Pengaturan yang baik terhadap segala kegiatan ekonomi (distribusi, investasi) dengan dasar pemerataan
4. Pembangunan infrastruktur (jalan, pusat pendidikan, pusat riset, dls)
5. Arus informasi yang berjalan baik
Gambaran dari prinsip-prinsip tersebut ialah bagaimana menciptakan Desa modern yang kuat dalam ekonomi pertanian yang didukung oleh pengetahuan, teknologi modern dan infrastruktur yang menunjang dalam produksi dan distribusinya. Desa modern ini kelak menjadi penunjang pangan bagi wilayah lainnya.

Senin, 25 Juni 2012

Stay Always Hot with the "Pop-Up" Nightclub Concept

It shouldn't come to you as a big surprise that location is one of the defining factors in the success of a business.
When it comes to the location of a nightclub, what it truly comes down to is the neighborhood it's in, and who frequents it. There is a reason the media is constantly highlighting celebrity hotspots like The Sky Bar, The Viper Room, or The Roxy; all in West Hollywood, California (LA County). It's not only a convenient spot; it's also upscale and trendy. Oh, and let's not forget about all those celebrities who live nearby.



But what happens when that formerly happening nightclub no longer attracts its elite clientele, or normal club goers like you and I? What if one day West Hollywood is no longer such a popular party destination? What becomes of those businesses?


That's an easy question to answer; it's over. Sad as it may be, that's just the unfortunate reality. Investment in renovations and other startup costs are lost, and profits are no more. Club owners are forced to cut their losses, pick up the pieces and setup shop elsewhere. That is, if they come out of it all with money in hand, and escape (relatively) emotionally unscathed. I know, it brings me down too. But you know as well as I do that if you're someone who likes to be where the action is, you won't be caught dead in there on a Friday night either.

A new business concept that has popped up in Singapore (literally) helps to eliminate the heartbreak that occurs when the tumbleweeds are the only things grooving on your once packed dance floor. The pop-up nightclub can go anywhere it needs to be (that is, once appropriate permits are obtained and legal considerations addressed). So, if your location is no longer a hit, or you just want to startup in a fresh new spot and attract a different crowd, moving is relatively easy and inexpensive.
The company, Grandstand PTE LTD expanded upon the mobile party concept popularized in the 80's and 90's (think ‘Party Monster' with Macaulay Culkin). They took the concept and improved it by creating an enclosed, safe, comfortable, and most important of all, legal environment to let loose which can go virtually anywhere. ‘The Aqua', Grandstand's nightclub model can be climate controlled, provides a sleek and modern look, and its 2 stories fit up to 500 people. Of course, let's not forget about the spacious bar area that can be well-stocked to keep your favorite drinks flowing all night long.



Maybe the concept does seem a bit like a glorified portable hotdog stand, or drink vendor on location at a little league game. This is because it is hard to get over the fact that such a monstrosity could be packed up and moved along. I can say what we're all thinking; it's much more prestigious to tell your friends you are the proud owner of a nightclub anyways (though the hotdog business is a perfectly honorable one, too). I have to say, I'm pretty impressed as well by the fact that its platform is made up of shipping containers than can expand to three times their original size. Especially with this in mind, the presentation of the place looks pretty neat.

Right now, The Aqua is set up for the first time onsite at the Singapore Sun Festival, near Clarke Quay. As of November 5th, it is ready to fall into the hands of the next willing ‘Transumer' (that's what Grandstand likes to call a consumer of their transportable venues) to be setup anywhere in the world. It seems as though their nightclub idea is already catching on, because a similar venue has been erected in the country by Orgo.

Grandstand PTE LTD also makes a line of portable retail centers and Grand Prix displays, so they cater to the daytime crowd as well if the nightlife scene is not your thing.



Prime location or not, I'd certainly be in attendance if such a venue were local, because it sounds too interesting to pass up. So think about it, could this be your next business move?
Source: Aqua by Grandstand